Impian jadi Creativepreneur dan Pentingnya Dukungan Laptop Mumpuni

Sejak kecil, saya senang sekali berkarya. Bentuk karya yang saya ciptakan berubah-ubah seiring bertambahnya hobi dan kegemaran. Ketidakkonsistenan hobi ini membuat saya nggak konsisten pula dalam menentukan cita-cita. Jujur, sejak kecil cita-cita saya juga selalu berubah-ubah. Saya sempat ingin menjadi penulis novel, bermimpi menjadi editor naskah, berkeinginan menjadi komikus, berharap bisa menjadi pelukis, berminat menjadi jurnalis, sampai berambisi untuk menjadi pembuat film.

Sampai sekarang, cita-cita saya tetap lebih dari satu meskipun nggak sebanyak dulu. Saya masih suka melukis secara digital dengan mendesain grafis, mengerjakan proyek penulisan fiksi untuk berbagai lomba, menjalani profesi sebagai content writer di media nasional, serta menekuni passion dalam membuat film. Bedanya, sekarang saya sudah bisa merangkum cita-cita saya dalam satu istilah, yakni creativepreneur alias pengusaha kreatif. Sialnya, saya terlambat menyadari bahwa untuk mendukung cita-cita tersebut, saya membutuhkan laptop yang mumpuni.

Menapaki Impian menjadi Pengusaha Kreatif

 

Ketika masih duduk di bangku SD, saya gemar sekali melukis. Kegemaran tersebut bermula ketika saya mencoba mengikuti lomba melukis tingkat kecamatan dan berhasil menjadi juara. Di samping itu, saya pun suka membuat komik sederhana yang kemudian difotokopi dan dijual seharga Rp500 kepada teman-teman sekelas. Melihat potensi ini, orang tua mengkursuskan saya pada sebuah tempat les gambar di komplek perumahan. Nah, hobi pertama saya ini mengantarkan saya pada cita-cita menjadi pembuat komik.

Beranjak remaja, saya mulai menyukai dunia tulis menulis. Di masa libur kelulusan SD, saya iseng membuat cerpen dan beberapa puisi pertama. Beranjak SMP, orang tua saya menunjukkan karya-karya saya tersebut ke kepala sekolah. Kepala sekolah pun tertarik, lalu mendaftarkan saya ikut lomba cerpen dan puisi tingkat kabupaten. Di tahun pertama, karya cerpen saya berhasil lolos ke tingkat provinsi dan di tahun kedua, gantian karya puisi saya yang lolos. Untuk menjaga konsistensi menulis, saya pun bergabung bersama klub majalah sekolah. Menduduki bangku SMA, saya bergabung dengan ekstrakurikuler jurnalistik dan sempat menjadi pemimpin organisasinya.

Semasa SMA pulalah saya mulai menyadari betapa asyiknya membuat film. Awal mulanya gara-gara saya (terlambat) menonton film Catatan Akhir Sekolah di televisi. Ditambah lagi saya mulai menonton konten-konten YouTube Aulia Wrizqi (Aulion) yang menginspirasi saya untuk membuat karya audio-visual. Maka, terciptalah karya audio-visual pertama saya; Dokumenter Kegiatan Teater Sekolah yang saya ikutkan lomba film pendek pelajar saat itu. Tentu saja nggak menang, wong filmnya jelek banget!

Memasuki tahun terakhir SMA, saya menginisiasi pembuatan film dokumenter tahunan sekolah yang diputar di acara perpisahan. Pembuatan film dokumenter ini menjadi jadi titik munculnya keinginan untuk jadi pembuat film. Soalnya, dokumenter ini adalah karya audio-visual pertama saya yang ditonton dan diapresiasi banyak orang. Saya jadi ketagihan pengen bikin lagi!

Nostalgia perjalanan hobi tadi mengingatkan saya bahwa cita-cita saya menjadi pengusaha kreatif rupanya sudah terpupuk sejak kecil. Menduduki masa kuliah, saya mulai serius belajar menulis dengan mengikuti lomba-lomba tingkat nasional, bergabung dengan Pers Mahasiswa, dan menjalani magang di media harian regional Tribun Jabar. Saya juga serius ingin maksimal belajar berkreasi audio visual dengan bergabung bersama klub sinematografi kampus dan menjalani magang di NET TV Biro Jawa Barat. Dari keseriusan tersebut, berbagai jalan pun terbuka. Saya sempat memenangkan kompetisi kajian media tingkat nasional, dan karya film saya pun ditayangkan di festival film nasional maupun internasional.

Lulus kuliah, saya bekerja di media perempuan remaja Gogirl! sambil tetap aktif menghasilkan karya film bersama rekan-rekan satu passion di rumah produksi Rumahku Films. Di Gogirl!, saya nggak hanya belajar menghasilkan konten tulisan secara profesional, tapi saya juga berkesempatan menghasilkan konten di media sosial dan YouTube. Namun, biar pun pekerjaan yang saya lakoni di Gogirl! sesuai dengan minat dan kegemaran, saya merasa ada hal yang mengganjal dalam diri saya. Meskipun udah bekerja sesuai hobi dan minat, kenapa saya masih merasa nggak nyaman?

Pada Agustus lalu, di bulan kesepuluh masa kerja saya di Gogirl!, saya menemukan jawabannya: saya masih bekerja untuk orang lain. Posisi saya hanyalah sebagai karyawan, dan saya nggak mau selamanya duduk di posisi ini. Sejak itulah saya memutuskan bahwa profesi yang sebenar-benarnya saya cita-citakan adalah creativepreneur.

Pentingnya Laptop Mumpuni bagi Pengusaha Kreatif

 

Perjalanan menjadi pengusaha kreatif alias creativepreneur tentunya nggak bakal mudah. Saya tentu masih harus banyak belajar dan menyusun rencana untuk mewujudkan impian tersebut. Namun, dua hal yang sudah saya tahu pasti; saya harus mencoba menjadi pekerja lepas (freelancer) setelah masa kontrak kerja dengan Gogirl! habis, serta mengembangkan rumah produksi Rumahku Films bersama rekan-rekan saya.

Dengan menjadi freelancer, saya bisa belajar mengatur sendiri proyek yang akan saya jalani, bagaimana sistem dan jam kerjanya, serta estimasi penghasilan per bulannya. Zaman sekarang mah content marketplace udah banyak, cuy. Saya nggak perlu bingung lagi di mana harus menjual keahlian yang saya kuasai; jasa menulis, mendesain grafis, mengedit video, serta mengedit teks. Di samping itu, saya pun sedang berusaha mengembangkan blog dan akun YouTube pribadi sebagai sarana berkarya dalam bentuk teks dan audio visual. Siapa tahu, ke depannya dua platform ini bisa menjadi sumber penghasilan saya juga.

Di samping itu, dengan terus mengembangkan Rumahku Films, saya dan beberapa kawan belajar untuk mencapai impian masing-masing sekaligus belajar mengomersilkan karya film. Kami sama-sama berjuang untuk menjadikan karya film nggak cuma sebagai sarana pemuasan passion, tapi juga pekerjaan yang berpenghasilan. Sebab, kegelisahan kami semua sama: mau sampai kapan bekerja sekaligus berkarya untuk orang lain?

Nah, untuk mewujudkan dua hal itu, saya nggak bisa munafik kalau saya butuh banget perangkat pendukung yang mumpuni. Perangkat tersebut nggak lain dan nggak bukan adalah laptop. Sejak 2013, saya setia menggunakan laptop keluaran 2010 yang terlampau ketinggalan zaman. Ukuran laptop saya besar dan berat, yakni 15 inci dengan massa 2,25 kilogram. Agar bisa membawanya kemana-mana, saya perlu memasukkannya ke dalam ransel besar yang biasanya digunakan untuk traveling. Repot sekali. Belum lagi sekarang beberapa tombol di keyboardnya sudah nggak enak ditekan, bahkan ada satu tombol yang hilang entah ke mana.

Biarpun kondisi fisiknya udah uzur, tapi secara performa laptop ini masih bisa saya gunakan untuk berbagai aktivitas. Saya masih bisa mendesain, menggambar digital, me-layout dan mengedit video. Namun, yah… tentu saja kecepatannya nggak pernah prima. Berkarya di laptop ini lebih sering leletnya daripada lancarnya. Belum lagi kalau layer editan bertumpuk, saya sering banget terpaksa berhadapan dengan keadaan ‘your software is not responding’. Hadeuh… bikin naik darah! Mungkin ini gara-gara RAMnya yang hanya 3GB dan kapasitas penyimpanannya yang cuma 320GB. Bagi orang yang suka mengumpulkan data film, video, dan grafis, kapasitas segitu tentu kurang buat saya.

Bertahun-tahun menjalin hubungan benci-dan-cinta bersama laptop saya ini, saya pun berkesimpulan bahwa laptop yang mumpuni itu penting bagi pekerja dan pengusaha kreatif. Sepenting itu, bro! Di satu sisi, ujaran yang mengatakan “Yaaa kalau berkarya mah berkarya aja dulu, jangan merasa terhambat gara-gara nggak punya perangkat yang bagus” nggak ada salahnya, sih. Buktinya, saya bisa berkarya dengan laptop tua ini. Tapi… di sisi lain, ingatlah kalau sekedar bisa bukan berarti lancar, bro!

Waktunya Ganti Laptop jadi ASUS Vivobook Flip TP410

Nah, sekarang saya memutuskan untuk mencari laptop pengganti. Soalnya, saya butuh perangkat pendukung impian saya, tentunya versi yang lebih mutakhir dan mumpuni. Setelah melalui sekian banyak penelusuran, pilihan saya akhirnya jatuh pada ASUS VivoBook Flip 14T410. Mulai dari fisik sampe performanya, laptop ASUS seri yang satu ini benar-benar cocok dengan kriteria laptop yang saya idam-idamkan;

  • Ringan dan fleksibel. Laptop ini bener-bener ringan alias lightweigth dengan layar 14 inci dan massa 1,6 kilogram. Selain itu, ketebalannya yang cuma 1,92 sentimeter memungkinkan saya membawa laptop ini dengan totebag Bahkan, saking fleksibelnya, laptop ini bisa difungsikan dalam 4 mode, yaitu media stand, powerful laptop, responsive tablet, dan share viewer.
  • Bisa bekerja cepat dan lancar. Prosesornya Intel Core i7 dengan RAM 8GB, ditambah lagi dilengkapi dengan konektivitas komprehensif; 2 port USB 2.0, 1 port USB 3.0, HDMI, dan SD Card dengan kecepatan transmisi tinggi. Saya nggak perlu takut lagi menghadapi keadaan not responding, deh!
  • Kapasitas penyimpanan yang besar, yakni sampe 1 terabyte. Gila! Ini mah saya nggak perlu membeli harddisk eksternal lagi buat menyimpan segala dokumen karya saya.
  • Ketahanan baterai yang sangat bagus, bisa bertahan sampe seharian. Saya udah lelah dengan laptop uzur yang harus selalu di-charge tiap kali digunakan. Baterai laptop ASUS tipe yang satu ini menggunakan teknologi battery health charging sehingga nggak bakal mudah rusak.
  • Punya sistem keamanan yang baik. Selain dilengkapi sensor sidik jari yang terintegrasi dengan Windows Hello, laptop ini juga udah dilengkapi preinstal Windows 10 asli.
  • Nyaman digunakan untuk menikmati film. Dengan desain layar NanoEdge dan teknologi ASUS SonicMaster, saya tentu bisa menonton film dengan visual dan audio prima. Soalnya, tampilan full HD di laptop ini dilengkapi teknologi wide-view 1780, sehingga warna dan kontras visualnya jadi tajem banget.
  • Nyaman digunakan untuk mengetik, sebab punya key travel yang tepat dengan mekanisme tombol yang reassuringly solid. Karena saya bisa mengetik cepat dengan sepuluh jari, saya sering diledek dengan ungkapan, “Awas itu keyboardnya rusak!”. Dengan laptop ini, saya nggak perlu khawatir lagi.
  • Mudah digunakan untuk desain grafis, soalnya laptop ini bisa bekerja sempurna dengan ASUS Pen. Kalau mau bikin komik, saya nggak perlu beli pen tab lagi, deh!

Gimana? Spesifikasinya bener-bener mumpuni buat para creativepreneur, bukan? Kalau kamu punya cita-cita yang sama dengan saya, cusss masukkan ASUS VivoBook Flip 14T410 ke dalam pilihan laptop impianmu juga!

 

| Artikel ini diikutkan dalam ASUS Laptopku Blogging Competition yang diadakan oleh ASUS dan uniekkaswarganti.com. |

Temukan juga:

Instagram Uniek Kaswarganti
Facebook Page Uniek Kaswarganti
Instagram ASUS Indonesia
Facebook Page ASUS Indonesia
Twitter ASUS Indonesia
Website ASUS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s